Senin, 30 September 2013

MAKALAH TIPE-TIPE PERKEMBANGAN EKONOMI

TIPE-TIPE PERKEMBANGAN EKONOMI
MATA KULIAH PEMBANGUNAN EKONOMI
DOSEN IZHAR SALIM
MAKALAH
Disusun Oleh:
AMIN SINARJO (NIM. F31111008)
DKK.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI KOPERASI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013/2014

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: ”TIPE-TIPE PERKEMBANGAN EKONOMI”.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan tepat waktu dan oleh karenanya, penulis dengan kerendah hati menerima dan meminta keterlibatan serta kesediaan pembaca memberikan masukan, saran dan usul dalam proses verifikasi makalah ini dan bagi penulis khususnya.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.







Pontianak, 29 September 2013



Penulis


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................................................(i)
KATA PENGANTAR..................................................................................................................(ii)
DAFTAR ISI................................................................................................................................(iii)
LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................................................(
BAB I.PENDAHULUAN............................................................................................................(1)
A.    Latar Belakang..................................................................................................................(1)
B.     Permasalahan Dan Sub Masalah.......................................................................................(1)
C.     Tujuan Penelitian...............................................................................................................(1)
D.    Manfaat Penelitian.............................................................................................................(2)
E.     Raung Lingkup Penelitian.................................................................................................(2)
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................(4)
A.    Tipe perkembangan...........................................................................................................(4)
B.     Ekonomi............................................................................................................................(4)
BAB III. METODE PENELITIAN.............................................................................................(5)
A.    Metode Dan Teknik Pengumpulan Data..........................................................................(5)
BAB IV. PEMBAHASAN..........................................................................................................(6)
A.    Perkembangan Ekonomi Di Negara Barat “Pembangunan Secara Sepontan” (Spontaneous Development).............................................................................................(6)
B.     Perkembangan Ekonomi Jepang “Pembangunan Yang Di Dorong” (Induced Development)....................................................................................................................(8)
C.     Perkembangan Ekonomi Rusia “Perkembangan Yang Dipaksakan” (Forced Development)....................................................................................................................(9)
D.    Perkembangan Ekonomi Di Neegara Sedang Berkembang............................................(10)
BAB V. PENUTUP....................................................................................................................(13)
A.    Kesimpulan......................................................................................................................(13)
B.     Saran................................................................................................................................(13)
1.      Saran kritis.................................................................................................................(13)
2.      Saran perbaikan.........................................................................................................(14)

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................(15)
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di dunia ini segala sesuatu mengalami suatu perubahan, tidak terkecuali perekonomian dinamika ekonomi inilah yang menyebakan pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan bahkan adapula yang stagnasi, resesi dan krisis yang berkepanjangan.
Dalam konteks Perkembangan ekonomi di Negara satu dengan Negara yang lain memiliki tipe-tipe yang berbeda. Perbedaan tersebut terjadi karena berbagai faktor, diantaranya faktor sumberdaya alam, kapital dan teknologi. Bagi Negara maju faktor kapital dan teknologi memang lebih berperan dalam membentuk tipe perkembangan ekonomi, namun faktor sumberdaya alam seperti sector pertanian juga bias dimanfaatkan sebagai pendorang pembangunan ekonomi sehingga dalam masalah ini Negara-negara maju lebih mudah dalam pencapaian tipe-tipe perkembangan ekonomi.
Rentetan historis kejayaan dan perkembangan ekonomi yang telah dicapai Negara-negara didunia tidak serta merta dapat ditiru oleh Negara-negara sedang berkembang. Walaupun ada beberapa aspek yang bersamaan, tetapi pada dasarnya berbeda, baik keadaan maupun tujuanya. Oleh karena itu, timbul suatu permasalahan bagaimana Negara-negara berkembang mampu menyaingi perkembangan ekonomi di Negara-negara maju, inilah yang membuat kajian historis sekiranya perlu untuk di lakukan agar dapat memfilterisasi kebijakan-kebijakan dalam pengembangan ekonomi yang berwawasan sosial kedepanya.
B.    Rumusan Masalah Dan Sub Masalah
1.      Bagaimana tipe-tipe perkembangan ekonomi?
2.      Masalah apa saja yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi?
3.      Adakah peran pemerintah dalam pembangunan ekonomi?
4.      Opsi apa saja yang diambil pemerintah dalam pembangunan ekonomi?
5.      Seperti apa pembangunan ekonomi yang baik?
C.    Tujuan
1.      Tujuan khusus penyusunan makalah dengan tata tulis ilmiah ini merupakan sebagai pelaksanaan tugas mata kuliah “Ekonomi pembangunan”.
2.      Tujuan umum dalam hal ini Penulis juga berharap agar makalah ini dapat dijadikan landasan tioritis dan bahan pertimbangan dalam penelitian selanjutnya serta peningkatan wawasan teman-teman mahasiswa dan masyrakat pada umumnya.
D.    Manfaat
1.      Manfaat teoritis
a.       Dari segi ilmiah penulis tentunya berharap makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan sosial dalam hal ini ekonomi serta Dapat digunakan sebagai landasan dalam penelitian ilmiah yang sejenis.
b.      Secara umum penulis juga berharap makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan kita tentang “perkembangan ekonomiyang diimplementasika dalam mempengeruhi efektifitas kebijakan-kebijakan ekonomi kedepanya.
2.      Manfaat praktis
a.       Manfaat bagi peneliti sekiranya agar dapat menjadi bekal berupa pengalaman dan pengetahuan serta wawasan dalam penyelesaian tugas-tugas kuliah kedepanya.
b.      Manfaat bagi teman-teman mahasiswa, penulis berharap agar sekiranya dapat di jadikan bacaan yang menambah wawasan.
E.     Ruang Lingkup Penelitian
1.      Variabel penelitian
Suharsimi Arikunto (2010:161) berpendapat bahwa; “variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dari suatu penelitian”. (huruf miring dari penulis), sedangkan menurut Sugiyono (2011:38) menyatakan bahwa; “variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari sehigga memperoleh informasi tentang hal itu kemudia di tarik kesimpulanya”. (huruf miring dari penulis)
Berdasarkan dua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai variable penelitian merupakan satu atau lebih objek dalam permasalahan yang menarik untuk dipelajari dan didalami untuk diuji dan ditarik kesimpulanya dengan prosedur ilmiah yang ada untuk mempersiapkan alternatif pemecahan masalanya.
Ruang ligkup penelitian ini mengacu pada dua variabel meliputi;
a.       Variabel independen
Sugiyono (2011:39) menyatakan bahwa “variabel indevenden sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa indonesia sering di sebut sebagai variabel bebas yang merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahanya atau variabel devendent” (huruf miring dari penulis).
Adapun yang menjadi variabel independent (X) dalam penelitian ini adalah; “Tipe-tipe Perkembangan” sebagai (X1).
b.      Variabel devenden (variabel terikat)
Sugiyono (2011:39) menyatakan bahwa “variabel dependen sering di sebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa indonesia sering disebut variabel terikat atau variabel yang di pengaruhi oleh variabel bebas” (huruf miring dari penulis)
Adapun yang menjadi variabel dependent (Y) dalam penelitian ini adalah; “Ekonomi” (Y1).






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tipe Perkembangan
Perkembangan (Development) merupakan suatu proses, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam (Akhmad Sudrajat : 2008)
Jadi dapat di simpulkan bahwa tipe perkembangan adalah corak yang muncul menjadi karakteristik sebagai akibat dari perkembangan dalam suatu dinamika.
B.     Ekonomi
M. Manulang: Pengertian ekonomi menurutnya adalah suatu ilmu yang memelajari masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kemakmuran, yaitu keadaan dimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya dari segi pemenuhan barang maupun jasa.
Paul A. Samuelson: Ekonomi merupakan cara-cara yang dilakukan oleh manusia dan kelompoknya untuk memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Jadi berdasarkan pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa ekonomi adalah ilmu sekaligus pengetahuan tentang tata cara memenuhi kebutuhan dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang terbatas secara berkelanjutan dan berwawasan linkungan.
C.     Kesimpulan
Tipe perkembangan ekonomi adalah upaya untuk melakukan pendekatan ilmiah mengunakan kajian-kajian historis dengan segala klasifikasi dan karakteristik perkembangan ekonomi dalam melakukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan kedepanya.











BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Metode Dan Teknik Pengumpulan Data
Adapun metode yang dipakai oleh penulis dalam rangka pengkajian ilmiah ini merupakan metode historis penulis juga tidak menyangkal bahwa terdapat kutipan-kutipan para ahli yang merupakan bagian dari metode bibliografi dengan maksud agar lebih releven, jadi dapat disimpulkan metode yang di pakai penulis merupakan metode historis sebagai metode pokok yang didukung oleh metode bibliografi sebagai metode penunjang.
















BAB IV
PEMBAHASAN
Tipe perkembangan ekonomi yang telah dicapai Negara-negara di dunia tidak dapat begitu saja ditiru oleh Negara-negara sedang berkembang. Walaupun ada beberapa aspek yang bersamaan, tetapi pada dasarnya berbeda, baik keadaan maupun tujuanya. Gambaran dari tipe-tipe perkembangan ekonomi antara lain:
A.    Perkembangan Ekonomi Di Negara Barat “Pembangunan Secara Sepontan” (Spontaneous Development)
Keadaan yang statis pada abad pertengahan disebabkan oleh faktor-faktor non ekonomis. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1.      Akumulasi capital yang didasarkan atas pinjaman yang berbunga terlarang karena alasan agama dan pinjaman hanya untuk konsumsi bukan produksi.
2.      Struktur masyarakat didasarkan atas agama dan paham feodal bukan atas nilai matriil dan ekonomis.
3.      Produksi dibatasi dan diatur yang berhubungan dengan kualitas dan harga yang disebabkan karena konsumen masih bersifat lokal dan tidak cukup tersedia transportasi.
Perkembangan perdagangan baru mulai meluas setelah adanya perang salib dan itupun hanya di daerah Mediteranian saja di daerah lainya belum memperbaiki keadaan ekonominya karena adanya angggapan bahwa:
1.      Kegiatan ekonomi belum merupakan usaha yang penting karena yang dianggap penting adalah usaha kesenian dan artistic.
2.      Kekayaan bukanlah hal yang penting tetapi kemiskinan dan penderitaan malah diangggap dapat menaikkan derajat.
3.      Belum atau tidak adanya pengertian akan adanya kemungkinan kemajuan.
Namun,anggapan-anggapan tersebut dapat dirubah oleh Renaisssance, dimana orang mengubah asio ( pikir ) yang mendoronng perkembangan ilmu pengetahuan untuk kemajuan teknologi. Akhirnya reformasi ini sedikit demi sedikit dapat mendobrak hal-hal yang dapat menghalangi adanya perkembangan ekonomi.
Faktor-faktor yang mendorong perkembangan ekonomi antara lain:
1.      Adanya penemuan-penemuan didaerah baru,
2.      Kenaikan produktivitas dibidang pertanian.
Pada mulanya ± abad yang lalu, perubahan ekonomi sangat lambat hal ini disebabkan karena sulitnya mengubah cara pikir terutama orang pedalaman. Tapi tak lama kemudian perubahan-perubahan mulai tampak terlihat dengan semakin banyaknya pengusaha dan terdapatnya perubahan politik pemerintah
Periode perkembangan yang pesat mulai terjadi di Eropa Barat dengan adanya revolusi Inggris pada akhir abad XVIII. Penemuan-penemuan baru dibidang teknologi dalam industri dan pertanian. Perkembangan yang pesat dalam investasi permulaan industrialisasi adalah adanya akumulasi capital class entrepreneur yang memperoleh keuntungan dari perdagangan luar negeri.
Salah satu faktor perkembangan terpenting untuk perkembangan ekonomi yang sangat pesat ialah adanya kemajuan dibidang transportasi. Jadi transportasi mendorong produksi industri dan pertanian untuk pasar nasional dan internasional. Perkembangan tersebut diperlancar dengan adanya kebebasan berusaha. Perkembangan ini berjalan dengan cepat samapi perang Dunia I. Konsentrasi pendapatan ada pada klass entrepreneur. Pendapatan pada umumnya tidak dikonsumsi tetapi diinvestasikan kembali. Keadaan ini mengakibatkan akumulasi perkembangan yang pesat dalam produksi, produktivitas, perdagangan luar negeri, dan pendapatan nasional.
Jadi perkembangan ekonomi di Negara barat pada permulaan memang lambat yang prosesnya memang tidak dapat diduga tanpa petunjuk  dan hanya kadang-kadang dibantu oleh pemerintah. Modernisasi pertama dapat menaikkan hasil produksinya sehingga dapat mensupply bahan makanan dan tenaga kerja disektor industri. Akhirnya, kemajuan sebagian hasil teknologi dapat dilihat dari kenaikakan produksi untuk pasar dalam kenaikkan produksi dalam pasar dalam negeri dan luar negeri.
Sumber dari perkembangan ini berasal dari class entrepreneur yang menanamkan kembali keuntunganya, menyebabkan tabungan dalam negeri yang makin meningkat investasi serta diimbangi dengan perluasan pasar yang cepat terutama menguntungkan bagi industri yang memproduksi secara massal.
B.     Perkembangan Ekonomi Jepang “Pembangunan Yang Di Dorong” (Induced Development)
Perkembangan ekonomi di negara-negara Barat dipimpin dan dibiayai oleh sektor swasta. Jepang mengalami perkembangan ekonomi yang diatur dan dipimpin oleh pemerintah dengan menggunakan kelas feodal sebagai alat dan dengan bantuan pemerintah menjadikan kelas tersebut sebagai kelas wiraswasta. Perkembangan ekonomi ditujukan untuk memodernisasi dan memperkuat kedudukan militer, politik, dan organisasi ekonomi untuk menanggulangi pengrongrongan dari Barat. Jadi kekuatan merupakan tujuann pokok pembangunan ekonomi. Struktur social dan system yang lama serta ketaatan kelas rendah terhadap pemerintahnya.
Jepang tidak mempunyai revolusi harapan yang menaik (revolution of rising expectation). Untuk masa yang lama penduduk  tetap mempunyai tingkat konsumsi yang rendah. Penduduk pada umumnya taat dan disiplin, sehingga memudahkan perencanaan pemerintah Jepang pada waktu itu belum mengalami kelebihan penduduk. Politik pembangunan ekonomi betul-betul direncanakan dan dilaksanakan sehingga berhasil merealisiasi tujuan seperti memodernisasi dan mengadakan ekspansi ekonomi.
Pemerintah memelopori dalam mengadakan investasi baik dalam sektor industri dan perbankan. Pajak-pajak sangat mendorong untuk mengerjakan tanah secara efisien, dan ternyata produksi pertanian menanjak dari tahun 1773-1900. Free entreprice (usaha bebas) dianggap sebagai metode yang paling efisien dalam memodernisasi perekonomian. Pemerintah mengambil inisiatif (prakarsa) dalam perkembangan industri. Investasi besar-besaran baik dibidang transpor maupun dibidang industry dasar (besi-baja) oleh pemerintah adalah menyiapkan jalan untuk investasi swasta. Pemerintah memelopori pula dibidang perbankan dan pertanian. Bank-bank tidak ragu-ragu member pinjaman jangka panjang.
Usaha-usaha swasta dengan cepat dapat mengikuti jejak pemerintah. Pendidikan diperluas dengan bantuan pemerintah. Jepang merupakan contoh negara yang diperintah oleh kaum feudal yang telah menyesuaikan diri dibawah pimpinan pemerintah ke perekonomian kapitalis. Berhasilnya perkembangan ini juga karena faktor psikologi dimana penduduk tetap disiplin dan taat kepada pemerintah. Pemerintah mengambil peranan yang sangat penting  dan sektor swasta mengikutinya dan kemudian dapat mengambil alih usaha pemerintah. Biaya-biaya pembangunan dirasakan berat terutama oleh golongan yang berpendapat rendah seperti petani dan buruh.
C.     Perkembangan Ekonomi Rusia “Perkembangan Yang Dipaksakan” (Forced Development)
Eropa dan Jepang meskipun ada bedanya dalam proses perkembangan tapi pada dasarnya mempunyai kesamaan yaitu keduanya berdasar pada perusahaan suwasta dan milik swata. Sedangkan perkembangan perekonomian Rusia didasarkan pada pemilikan dan pengawasan pemerintah seluruhnya. Pada revolusi 1917 Partai Komunis Rusia belum mempunyai blue print (rencana) untuk perkebangan. Politik perekonomian dalam 10 tahun pertama tampak adanya kurang persiapan. Dengan sistem ini keadan perekonomian menjadi mundur, produksi di sektor industri dan pertanian turun, sehingga terjadi bahaya kelaparan pada tahun 1911- 1922. Tahun 1921 diadakan Kebijaksanaan Ekonomi Baru (New Economic Policy). Ini merupakan suatu perubahan, dengan diperkenalkan sistem perekonomian campuran.  Sedangakn negara tetap mengawasi dan menguwasai sektor-sektor strategis Vital, yaitu semua mekanisme berskala besar, industri pertambangan, perbankan, dan monopoli perdagangan luar negeri. Di bawah sistem ini perekonomian menjadi baik kembali seperti pada tingkat produksi semula.
Perubahan politik yang dimenangkan oleh stalin terhadap Trosky, maka ekonomi juga mengalami perubahan. Rencana lima tahun bertujuan untuk mengubah struktur perekonomian yang bersifat pertanian menjadi industri. Tujuan lain dicapai dengan kolektivikasi aset dengan tujuan terutama hendak menghilangkan halangan-halangan yang disebabkan oleh adanya kepala batu petani perorangan yang telah menjadi kaya di bawah kebijakan ekonomi baru. Industri terjadi pada periode antara tahun 1927 – 1940 di mana investasi ke sektor industri sebesar 28 – 30% dari pendapatan nasional. Dan 80% dari investasi tersebut di arahkan ke industri barang-barang kapital. Akibat produksi barang-kapital lebih besar di banding barang-barang konsumsi Rencana Pembangunan 5 tahun dimulai tahun 1927/1928. Perkembangan ekonomi di negara-negara Barat lambat dan membutuhkan sumber-sumber kapital besar serta pengetahuan teknis yang masak. Kedua faktor tersebut (kapital dan teknologi) relatif lebih sedikit di negara-negara sedang berkembang. Perkembangan di Jepang lebih cepat karena semangata kebangsaannya, dan semangat tersebut terdapat pula di negara sedang berkembang. Sedangkan di Rusia perkembangan yang pesat di sektor industri terutama industri berat dicapai dengan penekanan tingkat konsumsi.
D.     Perkembangan Ekonomi Di Neegara Sedang Berkembang
Masalah yang dihadapi oleh negara yang sedangberkembang sebenarnya telah dipersoalkan sejak selesainya perang dunia II. Untuk menyelesaikan masalah tersebut maka diharuskan untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya masalah tersebut kemudian diselidiki perspektif sejarah bagaimana masalah itu dipersoalkan.
1.      Asal mula ekonomi dualistis ( dual economy )
Unsur pemikiran pokok yang secara implisit terkandung dalam teori-teori perubahan struktural dan secara eksplisit telah dinyatakan dalam teori ketergantungan internasional adalah gagasan adanya sebuah dunia bermasyarakat ganda (a world of dual society). Dualisme (dualism) merupakan konsep yang menunjukkan adanya jurang pemisah yang kian lama terus melebar antara negara-negara kaya dan miskin. Pada dasarnya ada empat elemen kunci sebagai berikut:
(a). Di setiap tempat dan konteks, selalu saja ada sejumlah elemen “superior” dan sekaligus elemen “inferior”. Elemen-elemen tersebut hadir secara bersamaan (berkoeksistensi) dalam waktu dan tempat yang sama. Inilah hakekat dari konsep dualisme.
(b). Koeksistensi tersebut bukanlah suatu hal yang bersifat sementara atau transisional, melainkan sesuatu yang bersifat baku, permanen, atau kronis. Artinya, elemen yang superior memiliki kekuatan untuk mempertahankan superioritasnya, sedangkan elemen yang inferior tidaklah mudah untuk meningkatkan posisinya.
(c). Kadar superioritas dan inferioritas dari masing-masing elemen tersebut bukan hanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, tetapi bahkan meningkat.
(d). Hubungan saling keterkaitan antara elemen-elemen yang superior dengan elemen-elemen lainnya yang inferior tersebut terbentuk dan berlangsung sedemikian rupa sehingga keberadaan elemen-elemen superior sangat sedikit atau sama sekali tidak membawa manfaat untuk meningkatkan elemen-elemen inferior. (Todaro: 1999, 100-101)
Pada akhir abad 19, negara industri meluaskan kekuasananya hampir ke seluruh dunia. Semua negara di Asia kecuali Jepang, Afrika serta Amerika Latin menjadi daerah koloni negara-negara Barat dan USA. Mula-mula mereka datang untuk berdagang,  tetapi kemudian memperoleh kekuasaan. Dengan demikian mereka dapat memperoleh lebih banyak bahan mentah. Adapun cara yang dipakai adalah memaksa petani menanam tanaman yang mereka butuhkan. Hasilnya harus dijual kepada penjajah dengan harga yang telah ditentukan. Hal ini menekan produksi pertanian bahan makanan.
Produksi serta ekspor utama negara berkembang adalah produksi primer, yaitu bahan makanan dan bahan mentah. Semua kesgiatan perekonomian ditujukan untuk ekspor, sehingga kebutuhan dalam negeri tidak diperhatikan. Kian lama ekspor hanya mengenai beberapa bahan yang dibutuhkan penjajah saja, yang kadang kala hanya satu jenis dan jumlahnya tidak banyak. Keadaan ini mengganggu stabilitas perekonomian karena sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga pasar dunia.
Pada masa itu perekonomian negara sedang berkembang terpadu dengan perekonomian negara barat. Investasi di negara berkembang oleh negara barat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Investasi yang ditujukan untuk pasar sangat sedikit. Hal ini agar perekonomian negara sedang berkembang tergantung pada negara penjajah. Akibat dari politik tersebut permintaan efektif tidak ada, dikarenakan oleh rendahnya produktivitas dan penghasilan. Keseganan untuk investasi dikarenakan oleh kebanyakan investasi tersebut berasal dari swasta yang memilih proyek yang menguntungkan dan produksinya dapat dijual ke pasar dunia. Kemudian keuntungan yang diperoleh ditransfer ke negeri investor.
Jadi sifat pokok negara sedang berkembang adalah ekonomi dualistis, yaitu industri ekspor yang terpadu dengan perekonomian dunia, dan kegiatan yang masih mempunyai tingkat subsisten(pertanian tradisional dan kerajinan).  (Irawan, Suparmoko: 2008, 246-248)
2.      Periode antara perang dunia I dan II “Turunnya kekuasaan barat
Dampak perang dunia I dan II bagi negara berkembang adalah:
(a). Menaikkan permintaan bahan mentah industri dan makanan dari negara sedang berkembang.
(b). Pengurangan ekspor barang konsumsi ke negara sedang berkembang.
(c). Hal tersebut mendorong negara berkembang untuk melaksanakan industrialisasi. Dengan tujuan supaya tidak tergantung lagi pada luar negeri, agar mampu menampung pengangguran.
3.      Periode sesudah perang dunia II “ perkembangan Internasional”
Setelah perang dunia II terjadi perubahan pandangan tentang perkembangan ekonomi.Negara maju menyadari bahwa perkembangan ekonomi merupakan tujuan penting. Maka dari itu mereka menarh perhatian terhadap negara sedang berkembang. Negara berkembang mengimpor barang konsumsi dan barang capital untuk keperluan perang dengan pembelian secara kredit. Untuk membantu negara sedang berkembang negara maju membentuk IBRD ( international bank for reconstruction and development ) untuk mendorong investasi di negara tersebut. Kemudian dibentuk FAO ( food and agricultur organization ) dan ITO    ( international trade organization ). Kedua badan dibentuk dengan memiliki tujuan yang menguntungkan bagi negara yang sedang berkembang.
Setelah perang dunia II berakhir keadaan negara berkembang tidak mengalami kemajuan karena devisa yang dimiliki oleh negara berkembang sedah tidak banyak lagi manfaatnya. Hal tu disebabkan karena harga barang impor dari Amerika naik sehingga pembangunan ekonomi mengalami kelambatan. Keadaan ekspor produksi primer mengalami penurunan. Karena adanya persaingan dari bahan-bahan sintesis. Selain itu, adanya proteksi di negara maju sehingga dasar tukar dinegara berkembang makin lemah. Bantuan untuk negara sedang berkembang itu ada tetapi jumlahnya tidak sesuai yang dibutuhkan. Bantuan  berupa capital saja bagi negara berkembang tidaklah efektif tanpa diimbangi dengan faktor-faktor lain seperti keterampilan manusia dan kemampuam memimpin karena faktor ini sangat kurang dinegara berkembang.








BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
       Keberhasilan Perkembangan ekonomi sebagian besar tergantung pada pemecahan beberapa masalah pokok yaitu akumulasi kapital dan penggunaan maksimal dari sumber daya manusia dan sumber daya alam yang tepat guna untuk meningkatkan serta memperbaiki produksi barang dan jasa.
B.     Saran
1.      Saran Kritis
      Penulis tentunya juga berkesempatan dalam mengkritisi arah kebijakan dan regulasi pembangunan ekonomi indonesia yang lebih mengarah pada perekonomian kapitalis, mungkin bisa ditebak apa yang diinginkan pemerintah adalah peningkatan daya saing indonesia dalam menghadapi era perdagangan bebas baik secara kwalitas maupun kuantitas produksi, saya ambilakan contoh jangan jauh-jauh di asia tengara saja indonesia masih kualahan bersaing dengan singapore, malaysia, thailand, dan bahkan vietnam, Bagaimana mungkin negara sebesar dan sekaya kita masih impor (pakai produk dari mereka), Sekarang apa yang bisa kita banggakan dari kebijakan ekonomi kita yang seperti sekarang? Pemerintah bisa saja bangga dengan pertumbuhan ekonomi indonesia yang selama 5 tahun terakhir bercokol diatas angka 5% dan berita terakhir detik.financial.com meyatakan pertumbuhan ekonomi indonesia tercatat terbesar kedua di antara negara-negara angota G20 serentak pertanyaan dan interupsi berhamburan menghampiri menlu Marty Natalegawa dan staf menko perekonomian yang menghadiri pertemuan itu dan hampir semuanya megarah pada “bagaimana indonesia melakukannya”.
      Tapi itu tidak bisa dijadikan bukti didepan seluruh rakyat indonesia tentang pembanguna ekonomi kita, itu baru layak di katakan sebagai peluang  karena sebagian besar produktifitas perekonomian kita hanya ditopang dan ditunjang oleh arus dana asing atau investasi fortopolio yang disebabkan logarnya regulasi dan kebijakan hutang luar negeri kita, padahal itu merupakan hutang pemerintah maupun swasta baik pinjaman lunak maupun pinjaman berjangka, ataupun dari menghijaunya bursa efek indonesia (BEI) yang mengangkat citra IHSG, dengan saham dan emiten pertambangan (logam dan energi) yang dikuasai perusahaan multi nasional dengan prosentase ekspor yang tinggi kenegara asalnya.
      Sekarang kemana Koperasi kita, kemana BUMN kita, kanapa semuanya dikuasai swasta, alangkah baiknya apabila ekonomi kita kembali ditegaskan arah kebijakanya dengan konsep pemerataan ekonomi demi meminamalisasi kesenjangan sosial dan mensejahterakan seluruh rakyat indonesia sampai pada tingkat akar rumput.
2.      Saran Perbaikan
      Dalam kotak saran ini penulis mengajak pembaca terlibat dalam proses perbaikan makalah ini. Sebagaimana yang penulis sadari, Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik pada penelitian, penulisan, materi maupun penyajianya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan tepat waktu dan oleh karenanya penulis dengan rendah hati menerima dan berharap keterlibatan pembaca dengan bersedia memberikan masukan, saran dan usul sebagai langkah verifikasi dan perbaikan makalah ini kedepanya karena pembuatan makalah inipun tidak lebih dari sebagai sumbangsih terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.












DAFTAR PUSTAKA
Buku referensi
Media online
Detik.finance.com, Okezone.com, Viva.news.com
Blog dan link

Jumat, 19 April 2013

PENGERTIAN MANAJEMEN


MANAGEMENT definition


NAMA: AMIN SINARJO
NIM:      F31111008
PRODI : Pend. Ekonomi
M.K      :Pengantar Ilmu Menejemen.
DOSEN: Endang Purwanigsih

Tugas individu.
1.      Pengertian menajemen menurut para ahli serta kesimpulan menurut individu?
a.       Menurut Dr. SP. SIAGIAN dalam buku ‘’filsafat administrasi” management dapat didefinisikan sebagai  kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain.
dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa management merupakan inti daripada administrasi karena memang management merupakan alat pelaksana utama daripada adminsitrasi.

b. Menurut Prof. Dr. H. ARIFIN ABDULRACHMAN dalam buku “KERANGKA POKOK-POKOK MANAGEMENT” Dapat diartika :
a.kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas;
b.proses, yakni kegiatan  dalam  rentetan  urutan-urutan
c.insitut/ orang – orang yang melakukan kegiatan atau proses kegiatan
c. Menurut James A.F. Stonner :
manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan danpengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan”.
jadi dapat disimpulkan manajemen adalah proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan berjalan ke arah suatu tujuan.
d. Kimball and Kimball (1951)”management embraces all dities and function that pertain to the provicion of necessary is to operate and the selection of the principal office “( manajemen terdiri dari semua tugas dan fungsi yang meliputi penyusunan sebuah perusahaan, pembiayaan, penetapan garis-garis besar kebijaksanaa,penyediaan semua peralatan yang diperlukan dan penyusunan kerangka organisasi serta pemilihan para pejabat terasnya.
Jadi kesimpulan dari defenisi-defenisi diatas adalah:
Menejemen adalah suatu proses pendaya gunaan sumber-sumber ekonomi(SDM/SDA)yang di susun berdasarkan lini (top, middle, lower, dan worker)dan metode:
(pendekatan,pengawasan,penempatan dan perencanaan) dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Amin sinarjo Sai).

2.      Prinsip menajemen dan pengertian!

A.       PEMBAGIAN TUGAS (DIVISION OF WORK)

Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif.Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place.
Pembagian kerja harus rasional atau objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja.kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

B.        WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB (AUTHORITY AND RESPONSIBILITY)

Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban.Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang.Setiap pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang.Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.
Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak.Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak.oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.

C.         DISIPLIN (DISCIPLINE)

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab.Disini berhubungan erat dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang. Oleh karena ini, pemegang wewenang harus dapat menanamkan disiplin terhadap dirinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap pekerajaan sesuai dengan wewenang yang ada padanya.

D.        KESATUAN PERINTAH (UNITY OF COMMAND)

Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.

E.         KESATUAN PENGARAHAN (UNITY OF DIRECTION)

Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya.Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja.Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah.Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.

F.         MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN ORGANISASI/PERUSAHAAN DI ATAS KEPENTINGAN PRIBADI/PERSONAL

Setiap karyawan harus mengabdikan kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi.Hal semacam itu merupakan suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan berjalan dengan lancar sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik.
Setiap karyawan dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi.Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap karyawan merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.

G.        BALAS JASA

Gaji atau upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian harus dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang.Sistem penggajian harus diperhitungkan agar menimbulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more pay for more prestige (upah lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak disiplin.

H.        PEMUSATAN (CENTRALIZATION).

Pemusatan wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak ada orang yang memegang wewenang tertinggi atau manajer puncak.Pemusatan bukan berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk menghindari kesimpangsiuran wewenang dan tanggung jawab. Pemusatan wewenang ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of authority)

I.          HIRARKI (TINGKATAN/GARIS WEWENANG)

Pembagian kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup area yang cukup luas akan menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang terbesar yang berada pada manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah.dengan adanya hirarki ini, maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab dan dari siapa ia mendapat perintah.

J.          KETERTIBAN (ORDER)

Ketertiban dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacauatau tegang.Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi.Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan.

K.        KEADILAN DAN KEJUJURAN

Keadilandan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat dipisahkan.Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.

L.        STABILITAS KONDISI KARYAWAN/STAPDALAM ORGANISASI

Dalam setiap kegiatan kestabilan karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan lancar.Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan.
Manusiasebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan menimbulkan goncangan dalam bekerja.

M.    PRAKARSA (INISIATIVE)

Prakarsa timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir.Prakarsa menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan dengan sebaik-beiknya.Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang.Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak gairah kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan senang hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.

N.      SEMANGAT KESATUAN ORGANISASI.

Setiap karyawan harus memiliki rasa kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggungan sehingga menimbulkan semangat kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan berarti bagi karyawan lain dan karyawan lain sangat dibutuhkan oleh dirinya. Manajer yang memiliki kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corp (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana.

MODEL ANALISIS KEUANGAN PERUSAHAAN



MODEL ANALISIS KEUANGAN
PERUSAHAAN
1.      RASIO LIKUIDITAS
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar.
Di tinjau dari likuiditas, maka keadaan perusahaan dapat dibedakan :
a. Likuid, perusahaan yang mampu memenuhi seluruh kewajiban keuangan, khususnya kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya.
b. Ilikuid, perusahaan yang tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan, khususnya
kewajiban jangka pendeknya. 
Disamping itu likuiditas digolongkan atas :
a. Likuiditas badan usaha, kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada pihak luar perusahaan ( kreditur dan investors).
b. Likuiditas perusahaan, kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya kepada pihak dalam perusahaa.
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan.
Rasio yang digunakan :
• Current Rasio
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar
Aktiva lancar
Current Rasio =
Utang lancar

• Quick Rasio
Menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan.
Aktiva lancar - Persediaan
Quick Rasio =
Hutang Lancar
• Cash Rasio
Rasio ini menunjukan angka perusahaan untuk membayar hutang jangka pendeknya dengan hanya memperhitungkan uang tunai dan efek/surat berharga.
Kas + Efek
Cash Rasio =
Hutang Lancar

Beberapa rasio likuiditas ini adalah sebagai berikut :
A.    Current Ratio
Rasio ini menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.
Besar current ratio yang ideal belum ada suatu patokan yang apsti, namun standar umumyang digunakan 200% atau 2:1 yang berarti nilai aktiva lancar adalah dua kali dari hutang lancar atau setiap satu rupiah hutang lancar harus dapat dijamin sedikitnya dengan dua rupiah aktiva lancar.
B.     Quick Ratio
Rasio ini menunjukan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semaki besar rasio ini semakin baik. Rasio ini disebut juga Acid test rasio.
Untuk quick rasio ukuran berdasarkan prinsaip hati-hati adalah 100% atau 1:1 dianggap cukup memuaskan didalam perusahaan apabila kurang maka dianggap kurang baik.
C.     Cash Ratio
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendeknya yang harus segera dipenuhi dengan kas dan surat berharga dalam perusahaan yang dapat segera di uangkan. Kegunaan dari rasio ini adalah untuk mengetahui bahwa setiap hutang lancar Rp. 1, 00 di jaminkan oleh kas dan efek sebesar hasil yang diperoleh dari cash rationya, tidak terdapat standar khusus pada cash ratio sehingga penilaianya tergantung kebijakan perusahaan.

2.      RASIO SOLVABILITAS
Rasio solvabiliats menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan hutang jangka panjang.
Besarnya ukuran umum yang dipakai adalah 200% atau 2:1 yang berarti dua kali dari total hutang perusahaan dikatakan solvable bila rasionya kurang dari 200%.
Di tinjau ari solvabilitas, maka keadaan perusahaan di bedakan menjadi :
a. Solvable, perusahaan mampu memenuhi semua kewajiban keuangan nya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
b. Insolvable, perusahaan tidak mampu memenuhi semua kewajiban keuangannya apabila perusahaan dilikuidasi.

Yang termasuk raqsio solvabikitas antara lain :
A.    Total Debt to Total Equity Ratio
Rasio ini membandingkan total utang dengan modal pemilik ( ekuitas ). Rasio ini digunakan untuk mengetahui berapa bagian setiap rupiah dari modal pemilik yang digunakan untuk menjamin utang. Semakin besar rasio ini semakin tidak menguntungkan bagi para kreditur, karena jaminan modal pemilik terhadap utang semakin kecil. Rasio diatas 100% sangat berbahaya bagi kreditur karena jumlah utang lebih besar dari pada modal pemilik.
B.     Total Debt to Total Asset Ratio
Rasio ini membandingkan jumlah total utang dengan aktiva total yang dimiliki perusahaan. Dari rasio ini, kita dapat mengetahui bebrapa bagian aktiva yang di gunakan untuk menjamin utang. Biasanya, para kreditur lebih menyukai rasio utang yang rendah, sebab semakin rendah rasio utang perusahaan yang diberi kredit akan semakin besar tingkat keamanan yang didapat kreditur pada waktu likuidasi
C.     Long term Debt to Equity Ratio
Rasio ini membandingkan antara utang jangka panjang dan modal pemilik. Rasio ini menunjukan berapa bagian modal pemilik yang menjadi jaminan utang jangka panjang. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal pemilik untuk menutup utang jangka panjang. Semakin rendah rasio ini akan semakin aman bagi kreditur jangka panjang.

• Total Debt to Total Equity Rasio
Rasio ini membandingkan total hutang dengan total modal pemilik.
Total hutang
Total Debt to Total Equity Rasio =
Modal sendiri

• Total Debt to Total Assets Rasio
Pada rasio ini membandingkan jumlah total hutang dengan aktiva total yang dimiliki perusahaan.
Total hutang
Total Debt to Total Assets Rasio =
Total aktiva

• Long Term Debt to Equity Rasio
Pada rasio ini membandingkan hutang jangka panjang dan modal sendiri.
Hutang jangka panjang
Long Term Debt to Equity Rasio =
Modal sendiri

Ditinjau dari segi likuiditas dan solvabilitas, maka suatu perusahaan dapat mengalami keadaan :
a.       likuid dan Solvabel
yaitu perusahaan yang dapat memenuhi kewajiban keuanganya baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
b.      Likuid tetapi Insolvabel
Yaitu perusahaan yang dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya tetapi tidak dapat memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
c.       Likuid dan Solvabel Yaitu perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya tetapi dapat memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
d.      likuid dan Insolvabel yaitu perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
3.      RASIO RENTABILITAS
Rasio rentabilitas atau disebut juga profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang,dan sebagainya. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga Operating Ratio.
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan menggunakan modal yang di tanam di dalamnya. Rasio yang digunakan :
• Net Profit Margin Rasio
Membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak serta penjualan bersih untuk menunjukan berapa bagian dari penjulan bersih yang menjadi laba setelah bunga dan pajak.
Laba setelah bunga dan pajak
Net Profit Margin Rasio =
Penjualan bersih
• Return Of Investment
Membandingkan laba setelah bunga dan pajak dengan jumlah aktiva yang bekerja.
Laba setelah bunga dan pajak
Return of investment =
Total aktiva
• Operating Income Rasio
Membandingkan antara laba sebelum bunga dan pajak (laba operasi) dan penjualan bersih.
Laba sebelum bunga dan pajak
Operating income rasio =
Penjualan bersih
• Return Of Equity
Membandingkan antara laba bersih (laba setelah bunga dan pajak) dan jumlah modal pemilik.
Laba setelah bunga dan pajak
Return of equity =
Modal sendiri
Beberapa jenis rasio rentabilitas adalah sebagai berikut:
A.    Net Profit Margin 
Net profit margin adalah rasio yang membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dan penjualan bersih untuk menunjukan berapa bagian dari penjualan bersih yang menjadi laba setelah bunga dan pajak. Semakin tinggi rasio ini semakin menguntungkan karena laba bersih perusahaan semakin besar.
B.     Return On Investment
Return on investment adalah salah satu bentuk dari rasio rentabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasinya perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian rasio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasinya perusahaan dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut.
C.     Operating Income Rastio
Rasio ini membandingkan antara laba sebelum bunga dan pajak (laba operasi) dan penjualan bersih.rasio ini menunjukan berapa bagian penjuaalan neto yang merupakan laba usaha. Semakin tinggi rasio ini menunjukan semakin tinggi keuntungan yang di peroleh suatu perusahaan
D.    Return On Equity
Adalah rasio yang membandingkan antara laba bersih (laba setelah bunga dan pajak) dan jumlah modal sendiri. Rasio ini menunjukan kemampuan modal pemilik yang di tanamkan oleh pemilik atau investor untuk menghasilkan laba bersih yang menjadi bagian dari pemilik. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi keuntungan investor karena semakin efisien modal yang ditanamkannya.dengan demikian , rasio ini sangat mendapat perhatian.
Profitabilitas adalah kemapuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Bagi yang mau lebih lanjut mari kita teruskan
Berikut contohnya laporan rugi labanya :

PT. MAUNYA LABA 
Penjualan Bersih
112.760.000
Harga Pokok Penjualan (HPP)
(85.300.000)
Laba Kotor
27.460.000
Biaya Pemasaran (6.540.000)
Biaya Admin&Umum (9.400.000)
Biaya Operasional
(15.940.000)
Laba sebelum bunga & Pajak (EBIT)
11.520.000
Bunga Hutang (jika ada)
(3.160.000)
Laba Sebelum Pajak (EBT)
8.360.000
Pajak Pendapatan (48%) atas EBT
(4.013.000)
Laba setelah pajak
4.347.000

Catatan:
Total Aktiva PT MAUNYA LABA = Rp81.890.000,-

Adapun Rasio Profitabilitas yang akan dipakai adalah:
  • Gross profit margin
  • Net profit margin
  • Return on Investment (ROI)
Gross Profit Margin 
Gross Profit Margin = (Penjualan - HPP) / Penjualan Atau
Gross Profit Margin = Laba Kotor / Penjualan
Gross Profit Margin = 27.460.000 / 112.760.000 = 0,2435 = 24,35%

Gross Profit margin = 24,35%
artinya bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp0,2435. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. Tetapi pada penghitungan Gross Profit Margin, sangat dipengaruhi oleh HPP, sebab semakin besar HPP, maka akan semakin kecil Gross Profit Margin yang dihasilkan.

Net Profit Margin
Net Profit Margin = Laba setelah pajak (EAT)/Penjualan
Net Profit Margin = 4.347.000 / 112.760.000 = Rp0,0386 = 3,86%

Apabila Gross Profit Margin selama suatu periode tidak berubah, sedangkan Net Profit Marginnya mengalami penurunan, berarti biaya meningkat relatif besar dibanding dengan peningkatan penjualan.

Return On Investment (ROI) atau Return on Assets (ROA)
ROI = Laba setelah pajak (EAT) / Total Aktiva
ROI = 4.347.000 / 81.890.000 = Rp0,0531 = 5,31%
ROI = 5,31%
artinya menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan, berarti dengan Rp1000,- aktiva akan menghasilkan laba bersih setelah pajak Rp53,10 atau dengan Rp1,- menghasilkan laba bersih (EAT) Rp0,0531,-

MODEL HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)

HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)

1. Pengertian Harga Pokok Penjualan.
Yang dimaksud dengan harga pokok penjualan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang dijual atau harga perolehan dari barang yang dijual, atau bisa dikatakan penghitungan HPP merupakan perbandingan antara seluruh harga yang di keluarkan untuk mendapatkan barang yang di jual  dengan hasil dari barang-barang yang di jual/penjualan (nilai-nilai dan harga jual).

Ada dua manfaat dari harga pokok penjualan.
1. Sebagai patokan untuk menentukan harga jual.
2. Untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan. Apabila harga jual lebih besar dari harga pokok penjualan maka akan diperoleh laba, dan sebaliknya apabila harga jual lebih rendah dari harga pokok penjualan akan diperoleh kerugian.

2. Rumus Menghitung Penjualan Bersih.
Penjualan dalam perusahaan dagang sebagai salah satu unsur dari pendapatan Perusahaan. Unsur-unsur dalam penjualan bersih terdiri dari:
- penjualan kotor;
- retur penjualan;
- potongan penjualan;
- penjualan bersih.

RUMUS penjualan besih:

Penjualan bersih = penjualan kotor – retur penjualan – potongan penjualan.

CONTOH:
Diketahui;
Penjualan bersih : ?
Penjualan                 : Rp. 25.000.000,-
Retur penjualan       : Rp. 125.000,-
Potongan penjualan : Rp. 150.000,-
Jadi.
Penjulan bersih =
Rp. 25.000.000,- – Rp. 125.000,- – Rp. 150.000,- = Rp. 24.725.000,-
3. Rumus Menghitung Pembelian Bersih.
Pembelian bersih adalah sebagai salah satu unsur dalam menghitung harga pokok penjualan.
Unsur-unsur untuk menghitung pembelian bersih terdiri dari:
- pembelian kotor;
- biaya angkut pembelian;
- retur pembelian dan pengurangan harga;
- retur pembelian;
- potongan pembelian.

RUMUS pembelian bersih:

Pembelian bersih = pembelian + biaya angkut pembelian – retur pembelian – potongan pembelian.
CONTOH:
Diketahui;
Pembelian bersih: ?
Pembelian                        : Rp. 23.000.000
Biaya angkut pembelian  : Rp. 800.000
Retur pembelian               : Rp. 500.000
Pot. Pembelian                 : Rp. 200.000
Jadi.
Pembelian bersih =
23.000.000 + 800.000 ­­- 500.000 - 200.000 = 32.100.000

4. Rumus Menghitung Harga Pokok Penjualan.
Untuk menghitung harga pokok penjualan harus diperhatikan terlebih dahulu unsur-unsur yang berhubungan dengan harga pokok penjualan.
Unsur-unsur itu antara lain:
- persediaan awal barang dagangan;
- pembelian;
- biaya angkut pembelian;
- retur pembelian dan pengurangan harga;
- potongan pembelian

Rumus harga pokok penjualan:
HPP = Persediaan awal barang dagangan + pembelian bersih – persediaan akhir
HPP = Barang yang tersedia untuk dijual – persediaan akhir

Keterangan :
Barang yang tersedia untuk dijual = Persediaan awal barang dagangan + pembelian bersih.
Pembelian bersih = Pembelian + biaya angkut pembelian – retur pembelian – potongan pembelian.
Atau
Barang yang tersedia untuk dijual = Persediaan awal + pembelian + beban angkut
Pembelian – retur pembelian – potongan pembelian.
Persediaan akhir barang yang tersedia (dikuasai) pada akhir periode akuntansi.
Untuk menghitung Harga Pokok Penjualan.
Perhatikan bagan di bawah ini.


Persediaan awal……………………………………………………………….Rp. 100.000.000
Pembelian                            Rp. 1.482.050.000
Biaya angkut pembelian      Rp. XXXXX –
                                                                    Rp. XXXXX
Retur pembelian                   Rp. XXXXX
Potongan pembelian             Rp. XXXXX –
                                                                    Rp. XXXXX –
Pembelian bersih…………………………………………………………….Rp. XXXXX +
Barang yang tersedia untuk dijual……………………………………………Rp. XXXXX
Persediaan akhir……………………………………………………………...Rp. XXXXX –
Harga Pokok Penjualan………………………………………………………Rp. XXXXX